Rabu, 27 November 2013

Menggalau Ria Di Pulau Sempu


“Menggalau Ria di Pulau Sempu” itulah thread ajakan mba yessy asal Jakarta di salah satu web jalan-jalan. Dengan menyesuaikan jadwal yang ada saya pun akhirnya memutuskan untuk ikut. Pulau sempu merupakan pulau tak berpenghuni di sebelah selatan Malang tepatnya di wilayah kecamatan sumber manjing wetan kabupaten Malang. Pulau sempu merupakan kawasan cagar alam oleh karena itu hanya di huni oleh flora dan fauna saja.
Sabtu pagi saat selesai menyelesaikan ibadah salat subuh, saya pun berangkat menuju kota Malang. Gerimis di kala pagi membuat dingin Surabaya di pagi itu. Dengan menaiki “Restu” dari terminal bungurasih dengan tarif Rp13.000 saya pun menuju kota Malang. Gerimis pagi di Surabaya dan indahnya sunrise di atas lumpur lapindo menemani perjalanan pagi saya menuju kota malang.
2 jam perjalanan saya pun sampai di terminal arjosari malang. Di lanjut naik angkot AG saya pun menuju stasiun malang lama yang merupakan titik kumpul dengan teman yang lain. Dengan skuad hamper 14 orang yang berasal dari Jakarta, Surabaya dan malang.
Tepat pukul 09.30 kami pun segera menuju pantai sendang biru. Dari kota malang ke pantai sendang biru kurang lebih 80KM dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam. Jalan berkelok, menanjak dan menurun rute yang harus di lalui. Panas terik dan angina yang kencang sangat akrab dalam perjalanan ini karena kami menaiki mobil bak terbuka :D
Setelah hamper 3 jam perjalanan, kami pun sampai di Pantai sendang Biru. Pantai ini merupakan tempat kita awal kita untuk menyebrang ke Pulau sempu. Setelah membayar retribusi di Pantai sendang biru, kami pun istirahat sejenak di pantai ini. Sambil menunggu urus perizinan polisi hutan, kami pun melengkapi logistic yang perlu di bawa. Karena di pulau sempu tidak ada sumber air tawar apalagi penjual makan minum jadi kami harus membawa persediaan air yang cukup dan makanan. Kalau tidak membawa tenda, di pantai sendang biru juga kita bisa menyewa tenda.
Perahu Perahu di Sendang Biru
Perizinan sudah beres, kami pun segera menaiki perahu nelayan untuk menyebrang ke Pulau sempu. Dengan tarif Rp.100.000 dengan kapasitas perahu 10 orang. Dari sendang biru ke pulau sempu waltu yang ditempuh hanya kurang lebih 15 menit. Dan kami pun menepi di teluk semut.
Teluk Semut
Jalur untuk menjelajah pulau sempu pada umumnya ada 2 yaitu rute Teluk semut lansung ke segara anakan. Selain itu ada rute yang paling disukai pecinta alam karena trek yang menantang dan lebih mengelilingi pulau sempu yaitu rute jalan timur pantai waru waru ke telaga lele berlanjut ke telaga sat, pantai kura-kura, pantai pasir panjang, segara anakan. Dari 2 rute tersebut kami lebih memilih rute pertama karena lebih menghemat waktu.
Dari teluk semut kami mulai tracking menelusuri jalan setapak. Menelusuri hutan yang masih lebat. Sesekali kami harus meloncat, menunduk untuk menghindari bekas pepohonan yang tumbang. Perjalanan yang sungguh nikamt ketika bisa mendengar suara suara hewan dari kejauhan, melihat monyet berkeliaran di sekitar kita. Sungguh pulau yang masih sangat terjaga keasriaanya.
2 jam berjalan, kami pun sudah melihat laguna segara anakan. Ketika berjalan sedikit lagi, agak kaget ketika melihat sudah banyak tenda tenda berdiri di pinggir segara anakan. Gagal rupanya untuk “Menggalau Ria” kalo ramai seperti itu. Setelah sampai di segara anakan kami pun di sambut dengan monyet-monyet dan bule yang sedang berjemur dengan bikininya -,- dan kami pun segera mencari spot untuk mendirikan tenda.
 Ramai Sekali -,-
Laguna segara anakan ini merupakan tempat seperti danau di tengah pulau yang airnya terisi air laut melalui celah karang. Air yang bersih dan jernih membuat nyaman untuk berenang. Di tambah lagi airnya yang cukup dingin. Pesona pulau sempu lain iyalah keindahan luasnya samudera dari balik pulau ini.
Celah Karang
Ketika malam, di saat bulan menampakan seluruh tubuhnya, purnama yang indah akan tetapi air laut menjadi pasang. Sehingga kami pun berkali kali menggeser tenda agar tidak kena air pasang. Alhasil malam itu kebanyakan tidak tiudr karena waspada banjir :D
Luasnya Samudra
Malam dingin hanya dihangatkan dengan api unggun, gelap hanya diterangi lampu senter, kehangatan kebersamaan dengan teman teman baru melengkapi kisah perjalanan kali ini.
Pulau sempu sebuah cagar alam oleh karena itu semua pengunjung yang datang ketempat ini wajib menjaga kebersihan, keasrian pulau ini.
Terima kasih buat mba yessy, mas yogi si dokter spesialis, 3 orang skuad Jakampus UIN, 2 Orang Skuadra KPP Jakarta Tambora dan lainnya untuk trip kali ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar