Selasa, 24 Januari 2017

Bukit Bossolo, Jeneponto

"Pagi Mengajarkan Kita Bahwa Segala Sesuatu Diawali Dengan Rasa Syukur dan Embun Adalah Tanda Keikhlasannya" - Harly Umboh

Pada tulisan saya sebelumnya mengenai Air Terjun Tama'Lulua, kali ini saya sedikit mengulas tentang sebuah bukit yang berada di dekat air terjun tersebut. Bukit Bossolo namanya. Bukit ini lokasinya tidak jauh dari Air Terjun Tama’Lulua, bukit ini merupakan titik terbaik melihat keindahan air terjun Tama’Lulua.

Untuk menuju bukit ini sangatlah mudah dan tak perlu mengeluarkan banyak tenaga karena jalan yang dilalui hanya berupa jalan mendatar yang sudah di beton dengan bagian kiri ladang jagung dan sebelah kanan jurang yang cukup tinggi. Walaupun jalan menuju bukit ini sudah dibeton, kendaraan hanya boleh hingga parkiran yang sama dengan parkiran untuk menuju air terjun Tama’lulua. Jika untuk menuju air terjun, kita belok kanan dan kemudian menuruni anak tangga, untuk menuju Bukit Bossolo, kita tinggal belok kiri mengikuti jalan lebar kurang lebih 10 menit. 

Setelah berjalan cukup dengan 10 menit, kita akan menemukan tanah lapang yang ditandai dengan adanya tulisan “BOSSOLO”. Bangunan tulisan ini cukup unik karena terbentuk dari susunan bambu-bambu yang dikaitkan sehingga menarik untuk dilihat. Selain itu juga, di depan tulisan tersebut terdapat ban-ban yang sudah di cat warna warni  sehingga menambah cantik jika diabadikan dengan lensa kamera.
Dari lokasi tulisan ini, kita dapat berjalan lagi menuju puncak bukit Bossolo. Dari lokasi pertama ke lokasi puncak bukit, kita harus mendaki sebentar kurang lebih 5 menit dengan kemiringan 60 derajat. Puncak Bossolo ini hanya lahan sempit dengan luas kurang lebih 3 meter. Puncak Bossolo ini dikelilingi dengan jurang yang terjal. Untuk menjaga keamanan pengunjung, pihak pengelola telah memasang pagar pembatas mengelilingi puncak tersebut dan juga telah memasang papan peringata untuk lebih berhati-hati dan tidak berdiri diluar pagar. Dari puncak bukit Bossolo ini, angin yang berhembus cukup kencang sehingga harus waspda dengan barang bawaan yang mudah terbang tertiup angin.

Setelah dari Puncak Bukit Bossolo, saya pun kembali lagi ke titik pertama. Di titik pertama ini, , kita dapat melihat keindahan air terjun Tama’lulua, hijaunya bukit-bukit sekitar dan lembah diantara dua bukit yang sangat keren. Di bukit Bossolo ini juga terdapat Gazebo yang dapat digunakan pengunjung untuk duduk-duduk santai menikmati tiupan angin. Selain itu juga, terdapat penjual makanan dan minuman segar sehingga tak perlu khawatir jika kita tak membawa makanan.

Sedikit hasil jepretan saya yang cuma menggunakan kamera HP yang hasilnya juga gak bagus-bagus banget :D :
Jalan menuju Bukit Bossolo
Ladang Jagung
hijau-hijau
Air Terjun Tama'Lulua
nah disana itu Puncak Bukit Bossolo
Bukan Endorse :D
Ayo ke Jeneponto 

Senin, 23 Januari 2017

Air Terjun Tama’Lulua, Jeneponto

Berawal dari melihat postingan salah satu akun Instagram jalan-jalan yang menampilkan foto air terjun yang sangat bagus di Jeneponto. Memang tak bisa dibantahkan, dengan semakin mudahnya mengakses internet dan semakin besarnya pengaruh sosial media yang akan membuat semakin mudahnya penyebaran informasi. Kita akan sangat mudah mengetahui lokasi wisata yang sedang “hits” atau memang menampilkan pemandangan yang bagus hanya dengan membuka media sosial seperti Instagram, Facebook maupun lainnya.
Pemandangan Air Terjun Tama'Lulua
Jeneponto, memang masih cukup asing bagi saya yang memang baru beberapa bulan tinggal di Bumi Sulawesi. Kabupaten yang berjarak kurang lebih 90 KM dari Kota Makassar ternyata memiliki banyak potensi wisata alam yang sangat menarik untuk di Kunjungi. Mumpung saat ini masih menjadi warga Sulawesi, jadi tidak ada salahnya mengunjungi tempat-tempat di Sulawesi Selatan yang menurut saya memang patut untuk di Kunjungi.

Jeneponto, seperti yang saya katakan sebelumnya memang memiliki banyak potensi wisata alam yang sangat menarik, pada pada liburan akhir pekan kemarin saya berkesempatan mengunjungi air terjun yang sangat keren dan sedang hits di dunia Instagram yaitu Air Terjun Tama’Lulua atau sering disebut juga air terjun Bossolo. Air Terjun Tama’Lulua ini berada di Desa  Ramba, Kecamatan Rumbia, Jeneponto. Jarak Tempuh dari pusat kota jeneponto kurang lebih 30 KM. 

Pada Waktu itu, 21 Januari 2017, Sabtu pagi, saya dan 3 teman saya berangkat dari Kota Makassar. Pada rencana awalnya kami mau berangkat pukul 07.00 akan tetapi karena pagi itu Makassar diguyur hujan deras, waktu keberangkan kami pun mundur hingga pukul 09.00. Perjalanan kami menuju Air terjun Tama’Lulua melalui Jalan Pettarani, Makassar melewati Kabupaten Gowa kemudian Kabupaten Takalar dan hingga Jeneponto. Jalan yang agak rusak di Takalar membuat perjalanan kami agak lama dan sedikit tersendat. Setelah memasuki Kabupaten Jeneponto dan tampak pusat keramaian yang ditandai dengan adanya Patung Kuda, kami berbelok ke kiri melalui Jalan Sungai Kelara. Kemudian lurus mengikuti Jalan hingga kecamatan Kelara dan Kecamatan Rumbia. Rute ini sama dengan rute menuju basecamp pendakian Gunung Lampobatang. Begitu kami memasuki kawasan Rumbia, nanti akan menemukan lapangan dekat dengan masjid dan setelah itu merupakan gerbang masuk menuju Air Terjun Tama’Lulua. Jangan khawatir terlewat karena ada spanduk besar yang menunjukan arah menuju Air Terjun. Setelah itu tinggal mengikuti jalan hingga parkiran. Untuk memasuki kawasan ini, dipungut biaya Rp5.000 per orang. Parkiran mobil dan motor berada di Lokasi yang sama sehingga pengguna roda empat tidak perlu khawatir akan berjalan lebih jauh. Jadi rute dari Makassar menuju Air terjun ini masih dapat dikatakan mudah karena jalannya sudah jelas asalkan bawa kendaraan pribadi yah, kalau untuk angkutan umum, sepertinya ada karena beberapa kali kami melihat angkot lewat akan tetapi kami tidak tahu rute angkotnya. Sepanjang perjalanan dari patung kuda hingga air terjun ini, kita akan menemukan pemandangan yang cukup bagus yaitu berupa persawahan, ladang Jagung dan banyaknya kuda yang lalu lalang.
 
Tiket Masuk
Setelah memarkirkan kendaraan, kami pun melangkahkan kami kami menuju air terjun Tama’lulua. Baru beberapa langkah kami berjalan, air terjun tersebut sudah terlihat dengan jelas. Pemandangan dari atas memang cukup menarik untuk diabadikan sehingga kami pun berfoto-foto sejenak dari atas bukit. Setelah puas mengabadikan momen, kami pun selangkah demi selangkah menuruni anak tangga untuk menuju air terjun. Lokasi wisata ini memang masih dalam tahap pengembangan karena anak tangga yang sudah terbentuk belum mencapai   100%. Setelah melewati anak tangga, kami menelusuri jalan setapk dengan jalan berbatu dan beberapa sata kemudian dengan jalan tanah dengan hutan bambu yang rindang dan menyejukan. Dari parkiran hingga lokasi air terjun, hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit, tidak begitu lama dan jauhkan. 
Lembah nan hijau
Penampakan Air Terjun dari Kejauhan
Anak Tangga yang harus dilewati
Setelah bercape-cape menuruni bukit menuju lokasi air terjun ini, rasa cape seketika hilang ketika melihat air terjun yang sangat indah. Deru suara air berjatuhan dan percikan air tertiup angin yang mengenai wajah begitu menyegarkan. Percikan air yang terkena sinar matahari yang sesekali menciptakan pelangi yang indah. Jadi tidak rugi jauh-jauh dari Makassar untuk berkunjung ke Air Terjun Tama’Lulua.
Hutan Bambu yang rindang
Foto Air Terjun dari bawah
Muncul Pelangi
Nikmati Keindahannya
Jaga Alamnya
Pungut Sampahnya
Ayo ke Jeneponto

Kamis, 19 Januari 2017

Mengejar Sunset di Embung Nglanggeran, Jogjakarta

Jogjakarta Memang Istimewa. Datang Ke Jogjakarta kita dapat berwisata Budaya maupun alam. Di bagian utara kita dapat menikmati kawasan Gunung Merapi dan bagian Selatan kita dapat menikmati keindahan Pantai. Dan kini terdapat satu lagi lokasi wisata di Jogjakarta tepatnya di Gunung Kidul yaitu Embung Nglanggeran.

Embung adalah kata yang digunakan oleh orang-orang jawa yang berarti telaga buatan. Embung Nglanggeran merupakan sebuah telaga buatan yang digunakan untuk menampung air hujan dan kemudian digunakan untuk mengatur suplai air ketika terjadi kekurangan air sehingga dapat digunakan petani untuk mengairi lahan. Selain itu, Embung Nglanggeran juga dijadikan tempat wisata yang sangat instagenic karena berada di atas bukit dan dekat dengan Gunung Api Purba Nglanggeran.

Embung Nglanggeran berada di Dusun Nglanggeran Wetan, Kecamatan Nglanggeran Patuk, Gunung Kidul. Objek wisata ini belum lama dibuka yakni 4 tahun silam tepatnya 19 Februari 2013 yang diresmikan secara langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Embung Nglanggeran berada di atas bukit oleh karena itu disini kita dapat menikmati keindahan alam Gunung Kidul dan hijaunya perkebunan warga.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Embung Nglanggeran adalah ketika menjelang sore hari. Selain untuk menghindari teriknya matahari, berkunjung pada sore hari juga kita akan dapat menikmati keindahan matahari terbenam yang sangat mempesona. Kolaborasi warna jingga matahari terbenam yang terpantul pada air yang berada di embung menciptakan refleksi yang sangat indah. Pada sore hari pun, kita dapat menikmati semilir angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.
Senja Romantis di Embung Nglanggeran
Rute menuju Embung Nglanggeran adalah jika dari Pusat Kota Jogjakarta kita dapat mengambil arah tenggara menuju ring road Ketandan, Jalan Wonosari. Setelah itu kita mengikuti jalan kurang lebih 12KM hingga tiba didaerah piyungan dan lurus saja hingga bukit bintang. Setelah itu ada perempatan dan kita belok kiri menuju Desa Ngoro-Ngoro. Setelah itu kita tinggal mengikuti jalan dan akan menemui beberapa relay stasiun televisi. Setelah itu ada pertigaan dekat puskesmas Patuk  dan kita belok kanan menuju pendopo Kalisong dang ikuti jalan saja hingga menemui SD Nglanggeran dan nanti kita dapat menemui petunjuk jalan menuju Embung Nglanggeran atau kebun buah Nglanggeran. Oh ya untuk menuju ke sini tidak ada rute angkutan umum sehingga kita harus membawa kendaraan pribadi.

Sesampainya di pintu masuk, kita akan dipungut retribusi dengan harga Rp7.000 (kalau gak salah, rada lupa hihihi) dan kita tinggal memarkirkan kendaraan kita. Setelah memarkirkan kendaraan, kita akan dapat melihat Gunung api Purba Nglanggeran yang cukup tinggi. Setelah di area parkir, kita berjalan menuju embung dengan menaiki anak tangga yang cukup tinggi. Tenang saja rasa lelah kita akan terbayar dengan keindahan pemandangan yang nanti kita dapatkan.

Setelah tiba di sekitar Embung, kita dapat bersantai-santai di Gazebo yang memang disediakan pengelola wisata ini. Dari Gazebo ini kita dapat menikmati keindahan Embung Nglanggeran dan sambil menunggu matahari terbenam. Ketika malam hari tiba pun, sudah terpasang lampu-lampu yang mengelilingi embung yang menambah cantik Embung Nglanggeran.

Jumat, 13 Januari 2017

Pendakian Gunung Penanggungan Via Tamiajeng

Berawal dari rasa penasaran ketika melewati jalan Surabaya menuju Malang dan bertanya-tanya Gunung apakah itu. Gunung yang nampak sangat gagah, tinggi dan berbentuk kerucut layaknya Gunung Semeru. Setelah mencari-cari info melalui mbah google dan ternyata Gunung itu bernama Gunung Penanggungan.

Setelah mengetahui namanya, terlitas dipikiran sepertinya asik juga jika mendaki gunung tersebut yang pada akhirnya pada tahun lalu berhasil mendaki Gunung tersbeut hingga puncak.

Gunung Penanggungan terletak diantara dua Kabupaten yaitu Kabupaten Pasuruan dan Mojokerto. Gunung ini sering disebut sebagai miniatur semeru karena bentuk puncak yang hampir sama dan Gunung ini merupakan Gunung berapi yang sedang tidak aktif. Gunung Penanggungan memiliki ketinggian 1653 Mdpl. Gunung ini memang tidak terlalu tinggi akan tetapi jangan meremehkannya karena gunung ini kecil kecil si cabe rawit. 

Gunung Penanggungan yang jaraknya begitu dekat dengan kota Surabaya ini memang menjadi tujuan para pendaki yang tidak mempunyai waktu banyak untuk menikmati kesejukan udara pegunungan. Gunung Penanggungan memiliki beberapa jalur yaitu Jalur Jolotundo, Gajahmungkur, Kunjoro Wesi dan yang paling populer adalah Jalur Tamiajeng. Jalur Tamiajeng merupakan jalur paling populer karena jalur ini merupakan jalur pendakian dengan waktu paling singkat. Jalur Jolotundo merupakan jalur resmi yang memiliki jalur lebih panjang dan akan melewati banyak situs sejarah.

Pada tulisan singkat kali ini saya akan sedikit bercerita dengan pendakian saya dan teman saya melalui jalur Tamiajeng. Jalur Tamiajeng ini berada di Trawas Mojokerto. Ketika itu kami menggunakan sepeda motor untuk menuju basecamp pendakian. Rute yang kami lewati Surabaya menuju Sidorjo kemudian krian dan menuju arah trawas. Setelah Polsek nanti kami belok kiri menuju ke arah UTC (Ubaya Training Center) dan lurus sedikit kami sudah tiba di Basecamp. Waktu tempuh Surabaya-Basecamp kurang lebih 1 jam.
Sebelum Mendaki berfoto di Pintu Masuk Gunung Penanggungan
Pendakian menuju puncak Gunung Penangungan melalui jalur Tamiajeng akan melewati 4 Pos. Dari pos perizinan menuju Pos 1 merupakan jalur landai dan berbatu. Jalur ini merupakan jalur pemanasan. Waktu tempuh ke pos 1 ini hanya 30 menit. Di Pos 1 terdapat warung yang menjual makanan dan minuman segar.
Setelah melewati Pos 1, kami menuju Pos 2. Jalur menuju Pos 2 merupakan jalur berbatu yang masih agak landai dan beberapa kali tanjakan kecil. Untuk menuju Pos 2 membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam. Di Pos 2 ini terdapat shelter yang dapat kita gunakan untuk berisitirahat.

Setelah melewati Pos 2, untuk menuju pos 3, jalur berubah menjadi jalur tanah yang sudah mulai menanjak. Jalur yang licin ketika hujan turun sehingga kita harus berhati-hati. Jalur dari pos 2 hingga pos 3 sebenarnya tidak begitu jauh akan tetapi karena jalur yang menanjak sehingga terasa lama dan harus pandai mengatur nafas. Waktu tempuh pos 2 hingga pos 3 kurang lebih 1 jam. Di Pos 3 ini juga terdapat shelter dan kami berisitirahat agak lama di pos ini.

Setelah mengisi energi kembali, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 4. Trek yang kami lewati semakin menanjak dan berkelok. Jalur tanah dan beberapa harus melewati batuan besar. Dari pos 3 ke pos 4 memerlukan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Jalur yang menanjak cukup terjal, kami tak hanya menggunakan 2 kaki kami untuk mendaki akan tetapi 2 tangan kami juga digunakan untuk merayap dan menarik badan kami dengan bertumpu pada bebatuan dan ranting-ranting pohon.

Setelah melewati Pos 4, jalur sedikit menanjak dengan medan berbatu sedikit berpasir. jalur yang dengan kondisi jalan sedikit terbuka karena akan mencapai batas vegetasi. Dijalur ini  kita sudah melihat keindahan kota dan Gunung-gunung lainnya yang berada didekat Gunung Penanggungan. setelah 30 menit mendaki, tibalah kami di Puncak Bayangan. Puncak Bayangan ini merupakan lahan terbuka yang cukup luas. Disini biasanya para pendaki mendirikan tenda untuk bermalam sebelum melanjutkan perjalanan menuju Puncak. Di Puncak Bayangan ini, kami dapat melihat gemerlap lampu kota ketika malam dan indah dan gagahnya Gunung Arjuno Welirang ketika siang hari. Waktu tempuh dari pos perizinan hingga ke Puncak Bayangan normalnya 4 jam.

Setelah bermalam di Puncak Bayangan, pada pukul 04.00 kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dari Puncak Bayangan menuju Puncak Gunung Penanggungan membutuhkan waktu 1 jam dengan medan yang sangat menanjak dengan kemiringan hingga 50 derajat dengan jalan berpasir dan berbatu. Meskipun gunung ini tidak tinggi, untuk mendaki gunung ini cukup membuat kami merayap perlahan untuk menuju puncak. 
Foto-Foto di Puncak Bayangan dengan latar belakang Gunung Arjuno Welirang
Pukul 05.00 pun kami tiba di Puncak Penanggungan yang sering disebut sebagai Puncak Pawitra yang berarti kabut. Karena puncak gunung ini sering tertutup oleh kabut. Puncak Pawitra pagi kala itu, matahari mulai terbit dari ufuk timur. Warna jingga berkolabarosi dengan langit yang membiru. Di sebelah timur Puncak Mahameru pun terlihat dengan jelas. Ketika hari semakin siang, luasnya lumpur di Porong pun juga terlihat. Puncak Pawitra kala itu sedang hijau. Rumput-Rumput dan ilalang di Puncak Pawitra sedang cantik-cantiknya. 
Sedikit Jepretan dari Puncak Penanggungan
Puncak Penanggungan, tidak begitu tinggi tetapi pemandangannya sangat keren, kamu kapan kesini?