Rabu, 06 November 2013

Hari Kedua di Ranah Minang


Allahuakbar Allahuakbar
Kumandang azan subuh membangunkan kami semua termasuk bule asal Jerman di sebelah yang malah sudah siap untuk melanjutkan perjalanan beliau di Sumatera Barat. Pagi yang dingin khas bukittinggi dan udara yang segar membuat kami lebih bersemangat untuk menikmati kota  pagi ini.
Setelah semuanya siap, kami pun segera check out dari guesthouse dan segera menuju tempat kostan salah satu senior saya pas zaman kuliah untuk menjemput beliau. Suasana jalanan kota yang masih sepi membuat nyaman perjalanan dan setelah bertemu dengan kak nia kami pun segera menuju tempat makan untuk sarapan. Kami pun mampir di sebuah warung yang menjual makanan khas bukit tinggi dan saya memilih bubur kampiun. Bubur kampiun adalah campuran yang terdiri dari: kolak pisang, bubur candil, bubur sumsum dan ketan hitam
Bubur Kampiun
Perut pun sudah terisi dan kami pun segera menuju tempat pertama di hari kedua kami di sumatera barat ini yaitu Ngarai Sianok.
Ngarai Sianok merupakan sebuah lembah yang terkenal dengan tebing tebingnya. Letak Ngarai Sianok ini tidak jauh dari Lokasi Jam Gadang tepatnya di perbatasan bukititnggi dengan kabupaten agam.
Pemandangan Ngarai sianok sangat indah. Panorama yang asri dan udara yang sejuk menjadi daya tarik tersendiri dari tempat ini. Ngarai Sianok semakin indah karena di “Batang Sianok” kalo diartikan sungai sianok. Jadi sangat disayangkan kalau berkunjung ke Bukittinggi tetapi tidak mengunjungi tempat ini. Di dekat Ngarai Sianok ini juga terdapat Gua peninggalan zaman penjajahan. 
 Ngarai Sianok

Puas menikmati panorama Ngarai Sianok kami pun bergegas menuju Lokasi   Wisata Pengrajin tenun Pandai Sikek. Pandai Sikek Merupakan salah satu nagari yang masuk dalam wilayah kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar atau kurang lebih 12Km dari BukitTinggi.
Di kawasan Pandai Sikek ini banyak ditemukan pengrajin-pengrajin songket, cocok yang mau berburu oleh-oleh khas minang. Tenunan yang khas dan memiliki motif halus mempunyai daya tarik tersendiri. Ditempat ini juga ada sebuah rumah yang sangat bagus untuk dijadikan objek foto :D
Selanjutnya kami kembali ke Bukittinggi untuk mengunjungi rumah Bung Hatta. Siapa yang tidak kenal dengan tokoh Proklamtor ini. Rumah Bung Hatta ini terletak di Jalan Soekarno-Hatta No 37 dan dijadikan museum oleh pemerintah kota Bukittinggi. Untuk menuju tempat ini tidak sulit karena letaknya tidak jauh dari pasar banto, jalan pasar atas, jalan pasar bawah.
Rumah yang masih berdiri kokoh ini walau ada sebagian yang sudah termakan usia karena material bangunan rumah terdiri dari kayu-kayu.Di rumah ini terdapat lukisan-lukisan, barang-barang milik Bung Hatta, kereta kuda bung Hatta Di rumah ini juga terdapat banyak kutipan pidato-pidato beliau.
Setelah ini kami harus kembali ke padang karena harus siap kembali ke pulau jawa. Sebelum kembali ke Padang kami menyempatkan diri untuk sekedar membeli oleh-oleh khas minang. Salah satunya keripik sanjai. Keripik yang sering dibawain temen ane yang orang padang. Keripik Sanjai sejenis keripik singkong yang rasanya khas sumatera barat rada pedas tapi enak ada lagi Gelamai, kalo menurut ane sih kayak dodol aja. Di pelataran jam gadang bias juga beli pernik pernik khas sumatera barat seperti kaos dengan harag yang terjangkau dan tergantung kemampuan tawar menawar.
Hari semakin siang kami pun segera kembali ke kota padang, perjalanan siang itu rada macet karena memang banyak wisatawan yang menuju bukittinggi. Dalam perjalanan kami pun mampir di warung makan Lamun ombak. Warung makan yang makananya enak (apa karena efek kelaperan). 2 jam perjaalanan kami pun tiba di Padang di rumahnya yang punya hajat abis nikahan.
Istirahat sejenak dan kami pun harus segera menuju ke bandara….
Sunset Menuju Bandara Internasional Minangkabau
Bye bye ranah minang

See you next time……………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar